Senin, 14 Februari 2011

Nokia Windows Phone 7 Keluar Tahun Ini

Nokia dan Microsoft bekerja cepat setelah secara resmi mengumumkan aliansi strategis untuk mengembangkan smartphone berbasis Windows Phone. Hal tersebut terungkap dalam konferensi pers yang digelar Nokia, Minggu (13/2/2011), jelang ajang Mobile World Congress (MWC) 2011 di Barcelona, Spanyol.

"Kami telah memiliki tim yang bekerja bersama di lokasi yang sangat menarik seperti Reykjavik (Islandia), dan mereka melakukan pertemuan untuk memutuskan waktu yang pas untuk merilis produk pertama Windows Phone," kata Jo Harlow, Senior Vice President Marketing Nokia. Ia menyiratkan bahwa produk pertama Nokia dengan Windows Phone 7 bakal keluar tahun ini juga.

Tim gabungan Nokia dan Microsot tersebut, kata Jo Harlow, bersama-sama mengembangkan inovasi dalam desain dan hardware untuk menghasilkan produk Windows Phone terbaik. Bahkan, dalam presentasinya, ia tak luput memamerkan konsep produk Nokia berbasis Windows Phone 7 dengan beberapa pilihan warna. Konsep produk Nokia dengan WP7 lainnya sebelumnya juga sempat bocor sehari setelah aliansi strategis diumumkan.

Dalam kesempatan tersebut, CEO Nokia Stephen Elop mengungkapkan alasan Nokia memilih Windows Phone sebagai platform utamanya dan potensi keuntungan yang diincar Nokia. Menurutnya dengan membayar lisensi Windows Phone kepada Microsoft lebih efisien ketimbang Nokia membenamkan investasi di platform sendiri di masa depan. Namun, tidak hanya itu, Nokia juga bisa berkontribusi besar ke dalam ekosistem yang juga digunakan vendor lainnya. Nokia juga bisa langsung memanfaatkan aset-aset bernilai dalam platform Windows Phone seperti Bing, XBox, Marketpace, dan jejaring iklan mobile.

Sumber:ENGADGET

Senin, 02 Maret 2009

Helipad Server Project: Part 1

Beberapa minggu lalu saya membawa komputer dari rumah ke ARC buat dijadiin server. Komputer ini saya pasangin Ubuntu 9.10 Server Edition versi 32 bit karena sistemnya udah outdated (Pentium 4 3.06 GHz). Kenapa Ubuntu? Well, karena dari beberapa sistem berbasis UNIX/Linux yang pernah saya coba, kayaknya Ubuntu itu udah jadi "rasa" favorit saya :D

Karena dulunya komputer ini dipake saya dan adik saya buat main game/ngerjain tugas/hal-hal lainnya, segala data-data di dalamnya musti di-backup dulu. Untung aja space HD eksternal masih mencukupi (satu tera gitu loh, wakakakakak).

Spek komputer saya secara lengkap adalah sbb:
  • Procie P4 3.06 GHz dioverclock jadi 3.12 GHz (yah, emang tipis, tapi kalo di atas 3.25 GHz jadi nggak stabil.
  • 2x512 DDR-SDRAM PC3200
  • 80+40 ATA HDD
  • Mobo: Asus P4SGX-MX (sedihnya punya fast ethernet di environment gigabit T_T)
Nah, rencananya sih server tersebut akan digunakan untuk me-mirrorkan beberapa isi Launchpad supaya komunitas Ubuntu di ITB tidak perlu menggunakan AI3 lagi untuk update aplikasi-aplikasi favorit mereka (cem Wine, Gnome GlobalMenu, dll.). Tujuan sampingan lainnya yaitu FTP private server, oprekan Ruby on Rails, oprekan webserver (dan konco-konconya), dan tempat ngoprek kru (kalo ada yang mau ngoprek di ubuntu).

1. Instalasi server

Setelah semua data-data penting di-backup, saya memasang Ubuntu server ke dalam komputer tersebut. Pertamanya, saya make konfigurasi "virtual machine mode" yang katanya bisa memangkas space HD yang dipakai sampai kurang dari 100 MB. Atur swap segede 1929 MB di HD1 yang segede 80GB, sisanya dipake buat naroh root directory. HD2 yang segede 40 GB, dipake buat mount point /srv. Selesai pasang, server jadinya terasa aneh banget. Maunya untung malah buntung.

Ternyata, ruginya instal mode VM punya beberapa kerugian. Yang saya rasakan:
  • Nano text editor nggak ada, cuma ada Vim (dan saya ga bisa pake vim T_T)
  • Manual page tidak terpasang secara default (jadi ga bisa baca manualnya vim)
  • Aptitude tidak terpasang (bedakan dengan apt)
Karena hal-hal di atas, server saya instal ulang dengan mode yang biasa-biasa aja.

2. Setting Server agar bekerja di belakang proxy ITB

Jaman-jamannya sebelum Karmic, update untuk repositori luar ITB tidak bisa berjalan dengan lancar karena masalah dengan Synaptic. Masalah tersebut disebabkan adanya bug (Indonesia: kecoa) yang mengakibatkan Synaptic mengabaikan proxy exception yang disetting pada Synaptic. Sehingga, kalo seseorang mau update repo luar (misalnya dl.google.com) update repo internal ITB tidak bisa dilakukan, demikian juga ketika update repo internal ITB update repo luar tidak bisa dilakukan. Yah, untungnya sih kebanyakan orang sekarang udah pake karmic. Dan untungnya juga saya pake karmic.

Nah kembali ke konfigurasi proxy di ubuntu server. Dalam dunia CLI, konfigurasi proxy untuk apt dilakukan dengan memasukkan 4 baris di bawah ini ke /etc/apt/apt.conf:
Acquire::http::Proxy "http://user:pass@cache.itb.ac.id:8080";
Acquire::ftp::Proxy "ftp://user:pass@cache.itb.ac.id:8080";
Acquire::https::Proxy "https://user:pass@cache.itb.ac.id:8080";
Acquire::ftp::Proxy::ftp.itb.ac.id "DIRECT";

Baris keempat digunakan untuk proxy exception repo dalam ITB.
Setting server sudah, terus apa?

Sabtu, 04 Oktober 2008

Test posting.



Oke, gw nemu program trutap. Moga2 aj berguna di blog.

Sent from my phone using trutap



Senin, 17 Desember 2007

Lagu Lama (atau lagu llama?)

Hey readers. Cuma pengen nulis lirik lagu lama aja. Nostalgia getooh.

Hahaa, huuu
Sun Go Kong is in the house (3x)

Seekor kera, terpuruk, terperangkap dalam gua
Di gunung tinggi suci tempat hukuman para dewa
Bertindak sesuka hati, loncat kesana kesini
Hiraukan semua masalah di muka bumi ini

Dengan sehelai bulu dan rambut dari tubuhnya
Dia berubah menerpa menerjang segala apa yang ada
Walau halangan, rintangan smakin panjang membentang
Tak jadi masalah dan takkan jadi beban pikiran

Berkelana s'tiap hari demi mencari kitab suci
Dengan dukungan dari gurunya, temukan jati diri
Semua kan dihadapi, dengan gagah berani
Walau aral rintangan setiap saat datang tuk menguji


Kera sakti...
Tak pernah berhenti, bertindak sesuka hati
Kera sakti...
Menjadi pengawal, mencari kitab suci
Kera sakti...
Liar, nakal, brutal, membuat semua orang menjadi gempar
Kera sakti...
Hanya hukuman yang dapat menghentikannya

Walau halangan, rintangan, membentang
Tak jadi masalah dan takkan jadi beban pikiran


Hahaa, huuu
Sun Go Kong is in the house (3x)

Puas rasanya.

Selasa, 13 November 2007

One Hell of 56 km Journey

Emang rada susah punya unit kegiatan mahasiswa yang rada baru.

Ruang sekretariat ngga punya, prestasi belom ada.

Berpikir dari sana, gue browsing internet buat nyari event yang pas untuk nyumbang prestasi ke Ganesha Biker.

Pertama gue ngeliat banner Oakley MTB Freestyle Challange. Hmm, kayaknya ngga cocok deh sama gue. Mana bisa freestyle?

Abis itu gue ngeliat banner "Tribute To Earth Goes To Bali 2007". Katanya sih modelnya touring gitu, jadi gue daftar buat audisi. Buat seleksi dokumen sih, gue lulus.

Hari Kamis, gue ditelpon Mas Devin buat ngikutin technical meeting di Jakarta, Jumat, 26 September. Berhubung ngga bisa, gue minta tolong nyokap buat ikut meeting itu.

Katanya yang daftar ada 50 orang, trus yang diambil buat tim inti ada 20 orang.Kayaknya sih ada peluang.Karena nyokap juga ngga bisa, kita telpon-telponan aja sama Mas Devin buat persiapan acara. Berangkat dari Bumi Perkemahan Cibubur jam 7 pagi, start di Taman Buah Mekarsari, finish di Tanjakan Jonggol km 60.

Ntar dulu, kenapa ada start & finish?

Karena, sistem seleksinya itu balapan. Sekitar 5 km jalan datar menuju Jonggol, dan sisanya 55 km campuran tanjakan dan turunan (tapi mayoritas sih tanjakan).

Jadinya, Jumat itu gue balik ke Jakarta jam 6 sore di Bandung, nyampe jam 9 di Jakarta.

Besoknya, Sabtu 27 September, jadilah gue ikut audisi itu. Bawa sepeda adek gue (yang diameter rodanya 26 inci, padahal adek gue baru kelas 5 SD; keren gak tuh?) dari rumah, yang kalo dibandingkan sama sepeda kontestan lain emang kalah keren.

Setelah mompa ban sepeda dan ngecek kelayakan sepeda, gue berangkat dari Bumi Perkemahan Cibubur jam 7 pagi bareng 40-an peserta yang hadir dan sekitar 10 orang "penggembira" - mereka yang ikut jalan bareng kita, tapi bukan peserta audisi.

Saat start di Taman Buah Mekarsari, panasnya balapan mulai kerasa. Beberapa pembalap mulai menyusul gue dengan helm mereka yang harganya rata-rata 800 ribu rupiah - dasar orang-orang maniak.

Perbedaan mereka sama gue bukan cuma di helm aja, tapi kostum. Gue make kaos putih dan celana training item, tapi sebagian besar yang ikut pake jersey khusus buat sepeda sama ceclana khusus biker - punya spons di bagian selangkangan, sangat mirip pembalut wanita. Gue mulai kehilangan kepercayaan diri, ngeliatin bikers yang kayaknya udah profesional banget.

Karena kehilangan semangat dan kesadaran, satu per satu peserta mulai menyalip gue. Yang tadinya ada di posisi 15-an, jadi peringkat terakhir. Seorang kakek, sambil nyalip gue, berkata gini, "Ayo nak, masa kalah sama yang tua?" Yah, kalo belom tua, belom bolah bicara. A Mild.

Setelah melewati jalan layang, neraka menuju surga dimulai. Serasa mendaki ke surga, tapi jalan menuju ke sana seperti neraka. Ngga sepenuhnya neraka sih, kiri-kanan terlihat haparan sawah yang hijau, tapi tanjakannya? Ampun!

Belom lagi panasnya matahari yang bikin jadi simulasi neraka beneran. Awalnya, gue cuma bawa aer seukuran botol aqua 600ml. Sangat ngga cukup buat balapan dari jam 7 sampe jam 11. Jadi, beli minuman adalah satu-satunya cara (ngga juga sih, minta minum ke penduduk sekitar juga cara yang ekomomis. Ato minum dari aer irigasi sawah.).

Di warung pertama yang gue temuin, gue beli Pocari. Gue tanya ke yang jaga warung, "Pak, ini Jonggol kilometer berapa?" dan gue tau kalo gue baru nempuh 13 kolimeter. Astaganagasaki. Masih 47 kilometer lagi, dan pastinya matahari merangkak naik.

Hal pertama yang gue pikirin saat itu, gak ada peserta lain yang semangatnya melebihi gue (kalo yang fisiknya melebihi gue sih, banyak). Hal kedua yang gue pikirin, ngga ada yang usianya lebih muda dari gue. Dengan modal semangat dan berharap jadi biker termuda yang pergi ke Bali dan ketemu SBY, gue memutuskan buat tetep melaju dan ngga nunggu mobil jenazah buat ngambil bangkai gue yang udah kering gara-gara dijemur 5 jam.

Jam 8.30, gue ngeliat semacam pit stop gitu. Bedanya sama pit stop F1, kalo di F1 mobilnya dikasih bensin, pit stop sepeda ini ngasih pisang+air. Mirip tempat peristirahatan gitu (tapi yang pasti bukan tempat peristirahatan terakhir). Kebetulan gue suka pisang, dan ini sedikitnya bisa mengubah pendidikan Indonesia. Kalo ada anak SD nanya, "Bu guru, apa monyet suka pisang?" maka seharusnya si guru tidak hanya menjawab "Ya" tapi juga ditambah "Bukan cuma monyet, tapi Bani juga suka."

Om Devin, yang jaga di situ, ngasitau kalo makin siang, peserta makin banyak yang berguguran. Dan dari dia juga gue tau kalo ini baru sepertiga perjalanan. Setelah minta pisang tambahan dan isi ulang botol minum, gue cabut dari situ.

FYI, sisa 40 kilometer ini merupakan campuran antara tanjakan dan turunan. Jadi, manfaatin sebaik-baiknya turunan buat petunjuk pengintegralan suatu fungsi. Maksud saya, manfaatin turunan buat tanjakan yang lebih mudah. Satu kesalahan yang gue buat, gue pernah berhenti di turunan gara-gara mau ngambil minum yang jatoh. Akhirnya botol itu kelindes, dan gue terpaksa beli minum lagi.

Di tengah perjalanan, ada banyak hal yang terjadi.

Pertama, gue nemuin seorang peserta berjersey perak yang terduduk, kalo ngga mau disebut terkapar, yang kehabisan air. Gue menyemangatinya, tapi percuma. Dia udah bener-bener cape, sementara gue cuma nyemangatin sambil genjot. Gue melaju terus. One down, and there are 34 remains. Sekarang, kesempatan gue buat melaju ke Bali jadi 10/17.

Kedua, seorang biker (bukan peserta) nyalip gue dengan sepeda lipatnya. Lucu juga kenapa bisa gitu, sepeda lipet bisa nyaingin sepeda gunung gue, tapi yang jelas: pinggang gue sakit. paha gue abis. gue butuh istirahat. Tapi semangat gue memaksa buat genjot terus, walaupun dengkul udah panas.

Ketiga, gue udah ngabisin 2 liter air buat rehidrasi. Padahal, masih jam 9 pagi. Gue juga makin bingung nyari warung yang jual pocari sweat dan kawan-kawan. Sempat berpikir buat nyantolin tangan ke angkot atau kendaraan laen yang lewat, tapi kalo nanti ketauan? Berabe. Alhasil, gue tetep genjot.

Keempat, gue nyalip orang yang pake sepeda lipet tadi. Revenge. Hahaha.

Kelima, gue mengalami sedikit "interaksi sosial" (atau apalah namanya). Gue ditepokin anak-anak SD. Disemangatin mereka. Mereka pada ribut "WAAA" gitu, kaya baru ngeliat superman terbang. Maunya sih foto bareng mereka, tapi berhubung ini lomba, gue harus genjot ampe tua.

Giliran ketemu cewek-cewek SMP yang lagi duduk-duduk, mereka ngecengin, "Capek?" dengan muka sok imut. Gue merasa harga diri gue sebagai lelaki jatoh. Hhh, pengen gue kawinin sama kebo di sawah.

Keenam, SEMUA mobil penyelamat, termasuk ambulan, mobil panitia, motor panitia, tronton, dan jip merah gede udah ngelewatin gue. Berhubung mereka melakukan sweeping peserta yang gugur setelah seleksi selesai, kalo gue pingsan gue diangkut kapan? Ntar sore? Makanya itu, gue ngga mau berhenti! (semangat membara di tengah panasnya bara matahari)

Di kejauhan, gue liat warung kecil. Ah, bagus, siapa tau ada minum.
Gue beli minum di sana, dan sedikit nanya-nanya tentang posisi gue. Dari info yang gue dapat, gue ketinggalan 1 jam dari peserta lain. Sekarang udah jam 9.40, jadi kalo gue kaya gini terus, gue bisa kalah. Biar ngga buang waktu, gue cabut dari sana.

Jam 10.30. Matahari udah naik banget. Walopun belom sampe puncaknya, tapi ini sih keterlaluan. Bagian pinggang ke bawah udah terasa berat banget. Tanjakan makin menggila, di mana gue pertama kalinya make gigi paling rendah buat tanjakan. Tangan udah berat. Dompet tipis karena udah gue abisin buat beli Pocari cs seharga total 25000. Semangan gue, bagaikan meteran bensin, udah di deket huruf E (entek/kosong). Sementara itu, makin banyak anak SD (yang pastinya melambai-lambaikan tangannya yang dekil kepada daku yang kelelahan ini) berseliweran karena udah waktunya bagi mereka untuk pulang. Gue musti bersabar buat nemuin pitstop berikutnya.

Saat gue lagi capek-capeknya genjot, tronton ijo tua gede khas militer menyalip gue perlahan tapi pasti. Seorang pemuda jersey silver, sama kakek yang tadinya nyalip gue, melongokkan kepalanya keluar. "Udah ikut aja, masih jauh lho!" teriak mereka. Pengen menghasut gue rupanya.

Jam 11.02. Diapit barisan pepohonan, gue menemukan tanjakan terjal terakhir, sebelum gue dievakuasi sama orang-orang dari tronton ijo. Saat menyeret (ya, menyeret) kaki gue menuju tronton itu, kepala gue penuh dengan kata-kata "Gue gagal. Gue ga jadi ikut ke Bali." Huuh.

Di tronton, gue ngobrol sama beberapa"the eliminated" lainnya.
"Kenapa sih banyak yang ngga jadi ikut? Padahal katanya ada 50 orang yang lulus seleksi berkas?" tanya gue.
"Katanya banyak yang frustasi gitu abis tau kalo banyak atlit yang ikut. Jadi mereka udah pesimis duluan," kata peserta lain.
Oh my God. Pantes ada yang aneh dalam lomba ini.
"Iya tuh, harusnya kita kan dipisah sama atlet. Wong kita rakyat biasa, kan beda sama atlet!?" si kakek menimpali.
Gue sih diem aja. Belom tua, belom boleh bicara.

Mobil tronton itu membawa gue ke sebuah restoran padang tempat finish peserta. (yang pasti bukan padang rumput ato padang pasir)

Di sana, banyak peserta yang finish duluan terlihat lagi duduk-duduk sambil ngerokok. (Gue bingung, kenapa kalo ngerokok staminanya bisa gitu ya?) Gue ngaso bentar di teras, menunggu ajal menjemput. Beberapa saat kemudian, kita dipanggil makanke dalam. Perut terisi, penjemput ajal pun berlalu. *apaan seh?*

Gue duduk bareng si pengendara sepeda lipet, pemakai helm 800 ribu itu. Sesi gosip dimulai.
"Jadi ya, dulu atlet Indonesia ada yang dipenjara di Singapura!"
Om Devin antusias ngedengerin.
"Trus dia bilang kalo dia itu pesepeda sama polisinya. Polisinya 'kan ngga bakal percaya gitu aja. Tapi dia naikin sedikit jersey-nya, keliatan deh belangnya. Dibebasin deh sama polisinya!"
(Perlu diketahui, karena teriknya matahari, bagian tubuh yang terjemur akibat bersepeda jadi lebih item dibandingin sama kulit di balik jersey.)

Seandainya di Jakarta semudah itu. Gue tinggal ngeliatin bagian kulit yang tertutup ama tali kolor dan si polisi bakal ngeliat kalo punggung ama pantat belang kaya papan catur.

Setelah sekian lama keroncongan, akhirnya makanan dateng. Enak? Ngga juga.Nasinya udah rada kering, ayam panggangnya rada keras, sayurnya juga kurang segar. Tapi yang namanya laper, Pedigree juga bakal masuk deh ke mulut. Gue makan juga tuh. Eh, ternyata rasanya gak jauh-jauh amat sama Pedigree. But it's OK, yang penting makan.

Setelah makan, top 20 diumumkan. Sedih sih kalah, tapi kalo lawannya atlet?

-bersambung-

Senin, 01 Oktober 2007

Estimasi Ukuran Bulan (tugas kontek)

Gw pernah mikir gini: gimana cara orang dulu mengetahui ukuran bulan?
Kelompok gw ngajuin satu cara, yaitu dengan cara komparasi/perbandingan.
Hasil diskusi kita adalah, kita me"misal"kan bola basket sebagai bumi, dan bulan sebagai bola golf. Karena pada jaman dulu ngga ada basket dan golf, jadi saya pribadi memisalkan buah kelapa sebagai bumi dan buah salak sebagai bulan.
Jari-jari buah salak adalah 1/4 jari-jari buah kelapa, karena itu jari-jari bulan adalah seperempat jari-jari bumi.
Diketahui jari-jari bumi=6400 km, maka jari-jari bulan=1600 km.
Sehingga dapat dihitung luas permukaan bulan
A=4πr2
=3,217 x 107 km2
Done!

Senin, 17 September 2007

What the sleeping police will do?

Dahulu, sebelom gw lulus SD, gw gak ngerti sama sekali tentang yang namanya "polisi tidur". Saat gw jalan ke rumah temen gw, Romi, di komplek Taman Asri, Jaksel, dia bilang, "Hati-hati, di sini banyak polisi tidur."

"Hah? Polisi tidur? Berarti musti pelan-pelan dong?"

Dengan intelegensi gw saat itu, gw bener-bener ngira kalo "polisi tidur" itu adalah polisi yang nongkrong di pos siskamling dan lagi tidur. maksudnya pelan-pelan ya supaya polisinya ngga bangun.

Romi menjawab, "Iya, emang kalo ngelindes polisi tidur itu musti pelan-pelan."
Gw mikir, kasian amet yah polisinya? dilindes mobil, apalagi truk, trus dilindes perlahan-lahan sampe menderita tiga perempat mati

Romi cerita lagi, "Banyak tuh, mobil-mobil ceper di komplek gw bawahnya lecet gara-gara ngelewatin polisi tidur."

At this point, pantat gw mikir, mungkin mobil-mobil itu sengaja dilecetin sama temennya si polisi yang pengen balas dendam gara-gara temennya gepeng.

Romi menarik kesimpulan, "Jadi, kalo ngelewatin polisi tidur, musti pelan-pelan. Apalagi kalo naik sepeda, kalo terlalu cepet ntar jatoh."

Tapi, bagi gw, kesimpulannya adalah: Polisi yang kita kenal, dengan seragam coklatnya itu, bener-bener kelindes kendaraan, apapun yang lewat, tapi ngga mati-mati (karena Romi ngga bilang ada polisi jatuh sebagai korban karena jadi kerupuk, kelindes gitu aja). Benar-benar penegak keadilan yang kuat.

Tapi, karena gw [dengan beruntung] udah kuliah, persepsi gw tentang polisi tidur udah berubah.

Ternyata yang namanya polisi tidur itu adalah gundukan aspal buat bikin pelan jalannya kendaraan yang lewat, bukan polisi yang tidur telentang (hah? sambil tidur nelen tang? mati dong?) di atas jalanan gitu.

OK, kembali ke PC. Dosen kontek gw ngasi contoh masalah, gimana kalo di deket mesjid dibikin polisi tidur?

Dari pihak pro, dinyatakan kalo itu bagus, untuk mengurangi jatuhnya korban gara-gara kebut-kebutan anak muda, sehingga jika ditambah polisi tidur korban akan berkurang karena kendaraan akan berjalan lebih pelan. Selain itu, ketenangan beribadah pasti terjaga.

Dari pihak kontra, dinyatakan kalo itu cuma memperlambat jalannya kendaraan, bikin rusak shockbreaker (bilang aja suspensi! sok bule!), merusak bagian bawah mobil, dan yang paling parah bikin kecelakaan baru lagi (pernah ada kasus teman ibu saya meninggal gara-gara naik motor lumayan kenceng dan ngga melihat polisi tidur).

Kalo menurut saya, sebagai seorang pengendara mobil dan motor, saya agak kurang setuju sama usul ini. Bagaimana kalo saya sedang terburu-buru dan harus menghadapi polisi tidur? Dan bagaimana tentang decitan rem mobil yang mungkin lebih mengganggu daripada suara mesin mobil?
(saya yakin kalo suara mesin mobil dan motor sekarang lebih tenang)
Bukannya mesin mobil menjadi ribut kalo berakselerasi (mengalami percepatan, pertambahan kecepatan, atau apalah) setelah melindas polisi tidur?
Kalau soal balapan liar, mungkin bisa ditertibkan dari pihak pembalapnya. Atau menyuruh mereka balapan di jalan yang lebih besar, misalnya.
Tapi, esensi polisi tidur itu adalah untuk menahan kendaraan agar memberi kesempatan orang untuk menyebrang.
Jadi, sebaiknya polisi tidur dibuat lebih jauh dari mesjid itu, untuk menjaga keamanan orang yang menyebrang jalan dan agar tidak mengganggu ketenangan beribadah.