Dulu, taon 2003, saat sedang seneng-senengnya masuk SMA 70 Bulungan, saya ditawari untuk masuk kelas super oleh sekolah. Katanya sih gratis, sampe2 percaya ga percaya gitu. Ada beberapa tes yang musti saya lewatin.
Pertama, psikotes di Univ. Pancasila Jakarta. Tes ini bertujuan untuk mengetahui sapakah para anak-anak cukup psycho untuk masuk kelas super. *ya engga lah*
Ratusan anak-anak dari SMUN di Jakarta ngumpul di sini. Menentukan nasib mereka sendiri. Membantu keadaan finansial orang tua mereka. Uoooh!
Saat baru saja tiba, saya lihat anak-anak SMU berseliweran dengan buku fisika dan biologi di tangan mereka (ngga, mereka bukan penjual buku kok). Rada panik, saya juga ikutan membaca buku-buku berat tersebut.
Ngga taunya, ternyata yang namanya "psikotes" itu cuma maenan biasa doang. Disuruh nebak pola lah, muter-muterin kubus lah, gambar (ato melukis) dikit lah, dsb. Lumayan, saya lulus dari 300 anak yang ikut psikotes.
Tes kedua, tes wawancara. Ngga main-main, diwawancara langsung sama sang profesor. Rada tegang juga sih, tapi...
LULUS.
Waktu nyari yang namanya SMA 3 di mana, tempat di mana anak-anak super bakal belajar, rada ribet juga. Untung ditemenin Rendy, anak 70 yang juga ngikut masuk kelas ini.
SMA 3 tuh di Setiabudi, masuk dikit dari halte busway. tapi yang namanya ngga tau nyarinya ya pusing juga.
Jadi, kalo dari rumah saya, naek patas AC 44 bayar 3000 turun di halte baswe setiabudi. dari depan naek ojek 3000 ato jalan juga bisa.
Pulangnya naik patas lagi, bayar 3000 perak lagi. trus kalo males jalan, naek angkot bayar 1000.
Jadi kalo dijumlah, ongkos transpor saya sekitar 6000-10000 per hari. Belom duit jajan, tambah mahal lagi.
Tapi semua berubah gara-gara Dimas.
Gw bisa nebeng mpe rumahnya di Lamandau *tempat ngumpulnya anak-anak agit 70* trus naek bis Metromini 69, dan cuma bayar 1000. Jadi lebih murah 2000 daripada naik patas. Coba itung, 2000 x 600 hari saya sekolah=1,2 juta. Thanx dim!
OK, balik lagi ke kelas super.
Jadi, kelas kita tuh angkatan pertama. Angkatan percobaan. Kalo kita jelek, kelas ini bakal ditutup dan kita ngga bisa gratis SPP. Pokoknya kita adalah hidup-matinya kelas super! *waduh!*
Di dalem kelas, ada 20 anak yang lulus audisi, eh seleksi. Nih daftarnya:
Azhar Fuadi (Mojol), SMAN 28
Dhea Mutiarafitri Muchtiarsyah (Dhea), SMAN 112
Dinna Afriana (Dinna), SMAN 68
Diptarama (Dipta), SMAN 61
Febrigia Ghana (Ghana), SMAN 8
Friska Amalia (Friska), SMAN 28
Herdimas Anggara (Dimas), SMAN 28
Hisardo Dagmar (Addo), SMAN 28
I Putu Banitama Suparta (Bani), SMAN 70
Ilham Septiawan (Ilham), SMAN 3
Jaka Besar Bachtum (Jaka), SMAN 28
Kinara Paramitha (Kinara), SMAN 34
Kirana Listyandiani (Kirana), SMAN 71
Muhammad Taufik Aulia (Piko), SMAN 71
Putri Herliana (Putri), SMAN 34
Putri Sanggabuana Setiawan (Sangga), SMAN 47
Rendy Dwi Putra (Rendy), SMAN 70
Restu Dwi Hartono (Restu), SMAN 39
Saifan Abdulloh Muqimuddin (Saifan), SMAN 8
Teddy Hendra Zulkarnaen (Teddy), SMAN 112
Dan gosip yang paling menghebohkan, fenomenal, kontroversial, dan rada binal:
pelajaran anak2 super katanya pelajaran S1. Kenapa?
Sbenernya, anak-anak kelas super digodok untuk merebut semua emas di olimpiade internasional ato nasional, mau IMO, IPhO, IChO, IBO, SMO, OSN, dll. Jadi kurikulumnya dipercayakan sama Prof. Yohanes Surya. Tenaga pengajar juga dicomot langsung dari universitas-universitas ternama. Bahkan, beberapa pelajaran diajarkan oleh lebih dari satu dosen.
Matematika :Pak Sukino SS, Pak Anton Wardaya (SMAK 1 Penabur), Pak Bambang, Bu Savitri S.
Biologi : Pak Ahmad Ridwan (SITH ITB), Pak S. Wenuganen (Biologi Atmajaya), Bu Susilowati
Fisika : Pak Yohanes Edi Gunanto (Fisika UI), Pak Bian Gwan, Pak Rahmat Widodo (Fisika UI), Pak Terry Mart, Pak Agus Salam, Pak Sastra K, Pak Yogi, Pak Hikam, Pak Yendi, dan Pak Yohanes Surya
Kimia : Pak Ridla Bakri (UI), Pak Aris, Pak Putu (khusus praktikum)
Komputer : Pak Hari Juliarta Priyadi
Speed Reading : Pak Sigit FX
Manajemen : Pak Robert Tobing
Etika : Pak Wenny Lelufna
Munculnya dosen-dosen ini memberi kita bayangan seperti apa kuliah nanti. Semua dosen punya ciri khas, entah itu baik, ngaco, jayus, suka ngeles, dsb.
Dan ada gosip lain yang menggemparkan kelas yang ada di lantai dua SMAN 3 itu.
Siswa yang tidak memiliki performa yang cukup untuk bertahan di kelas ini, akan di"eliminasi" dan dikembalikan ke sekolah masing-masing. (dan akhirnya ini hanya sekedar gosip, atau memang semua anak kelas super mampu bertahan?)
Biar begitu, kita, 20 anak super, menjalani hidup yang, menurut saya, lebih ringan dari anak reguler. Istirahat 2 kali, dari jam 9-10 sama jam 11.30-13.00. Betapa jauh lebih enak dari anak reguler yang istirahat jam 10.00-10.15 sama 12.00-12.30. Dan itu baru permulaan.
Pada awal Januari 2006, kami mengadakan wisata ke Thousand Island (kepulauan seceng, 1000, ato seribu, whatever lah), tepatnya di Pulau Pramuka, untuk memperingati hari ulang tahun saya, 5 Januari.
Kita disambut oleh anak-anak SMAN 69, masuk penginapan, dan snorkeling (ada 1 anak yang ngga ikut snorkeling loh). Waktu malam, ada sekelompok anak-anak yang main kartu. Di sana lahirlah tradisi yang namanya "main kartu untuk kehidupan".
Gimana enggak, malem sebelum tidur main kartu. Pulang dari sana main kartu di atas boat yang berangin.
Tapi kita disana ya engga main kartu doang.
Kita juga snorkeling, liat-liat tambak ikan, nonton film, presentasi tentang kehidupan bahari (disertai lomba makan pisang goreng terbanyak dengan peserta saya dan Dipta), dan atraksi sulap kartu dari Pak Yohanes Surya.
*ternyata selain fisika, dia juga bisa sulap lho!*
Terkesan oleh sang profesor kartu, kita pun membuka kelas baru di sekolah: capsa international training.
Emang, main kartu di sekolah itu dilarang, karena diduga sebagai asal-muasal judi dan taruhan. Di mata dosen sih ngga apa-apa.
Tapi, di mata pengawas, sang Raden Mas Aritonang, main kartu itu bagaikan mengibarkan bendera merah di depan banteng yang kelebihan testoteron.
Gimana engga, kalo ketauan main kartu di kelas, tuh 52 kartu dicincang sampe berkeping-keping sama dia. Udah 3 pak kartu dijadiin bubur kertas sama dia.
Jadi, kalo engga main kartu trus main apaan dong?
BANYAK!
Entah itu mini soccer pake bola plastik 5000 dapet 10, kuda tomprok yang bisa mematahkan tulang rusuk, sampe gundu ala anak SD.
Malahan ada beberapa anak yang ngadu catur sama guru matematik, walopun tau kemungkinan menang itu kecil (tapi ada).
Jadinya, kelas yang tadinya ditargetkan untuk belajar serius, malahan jadi gamehouse.
Pernah ada kejadian, waktu beberapa cowo kelas super main bola (bola asli dari kulit yang dalemnya angin, bukan bola buat mandi bola) di dalem kelas. Setelah beberapa umpan silang, bola pun ditendang.
Sayangnya, ngga ada gawang di dalem kelas. Yang ada cuma meja, kursi, AC, jendela, pintu, tembok, dan LAPTOPNYA PAK RIDWAN.
Setelah si bola kulit menghantam layar benda canggih itu, ada dua suara yang terdengar.
Suara 1 : Prak!
Suara 2 : Oops!
Satu ruangan hening. Gunung berguncang hebat. Angin berhembus keras. Permainan terhenti.
Engselnya, retak, gitu, loh.
Beruntungnya kita, Pak Ridwan sangat baik sekali (ato paling ngga menyimpan dalam-dalam perasaannya) sehingga kita ngga dimarahin dan ngga disuruh turun_ke_lantai_1_tapi_ngga_lewat_tangga. Bersyukurlah kalian, wahai mahasiswa-mahasiswi SITH ITB! Dosen paling baik ada di antara kalian semua!
Walopun gitu, kita tetep main kartu secara sembunyi-sembunyi. Main blackjack, capsa 5 kartu, cepek keroyokan, dan cangkulan biasa.
Tapi, kalo pas kaya jalan-jalan ke kantor PT Kompas, YPAC, dan lain-lain, kita ya ngga main kartu. Tau keadaan dong.
Apalagi keadaan gawat kaya pas ada Pak Tonang.
Sampe akhirnya permainan kartu didukung oleh guru pendatang baru.....
Pak Rahmat Widodo, mendadak ngga bisa ngajar, trus digantiin sama Pak Gwan, Pak Terry, Pak Yogi, and so on. Sampai akhirnya membuat Pak Agus Salam menjadi pengajar terakhir fisik buat kelas ini.
Waktu pertama kali masuk kelas, dosen yang satu ini emang rada kagok. Mungkin belom terbiasa sama gilanya suasana kelas yang bisa membuat rambut anak FSRD ITB jadi langsung botak.
Tapi, saat istirahat berlangsung, senjata dosen ini keluar: kartu. Yap, dialah pelopor permainan bridge di kelas kami.
Jadi, kalo ada ancaman dari Pak Ari, kita semua punya backingan.
Ancaman Pak Ari murni menghilang, setelah masuknya "manajer" (kaya tim sepakbola aja) baru. Karena ngga enak sama orangnya, marilah kita sebut orang ini Mr. Anak Robin (ato robinson).
Mr. Robinson ini awalnya muncul sebagai sosok dosen manajemen di kelas super. First impressionnya sih ni orang udah berumur masih pake parfum gitu, jadi menimbulkan kesan aneh.
Dari dosen, dia mendadak jadi manajernya kelas super. Katanya sih kenalannya Pak Yohanes, jadi si prof percaya ajah gitu sama dia.
Dengan terangkatnya Mr. Robinson menjadi manajer, pola belajar pun diganti, dan beberapa guru keluar dari kelompok pengajar kelas super, yaitu Pak Kino dan Pak Ari. Kayaknya Pak Kino rada ngga terima gitu, karena jam mengajarnya diisi sama guru lain, guru yang lebih junior. Kalo Pak Ari?
Ikut-ikutan sama Pak Kino, ngga terima karena selama ini dia yang mengawasi (dan sedikit memanajemen kelas super).
Setelah dua orang ini keluar, resesi dan ekstradisi marak terjadi di kelas super.
Untungnya, kita memilih untuk lulus lebih cepat, saat awal Maret 2007. Kelas ini tiba-tiba menjadi kelas aksel-ngebut-dadakan. Seperti yang diduga, ngga gampang ngejar materi UAN buat 3 tahun dalam waktu 6 minggu.
Yap, 3 materi UAN kampret itu, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika, emang rada nyusahin.
Bahasa Indonesia, yang konon merupakan bahasa kita sendiri, ternyata ngga semudah sama apa yang kita omongin tiap hari.
Bahasa Inggris, yang selalu muncul di komputer kita, ternyata teorinya BANYAK. (padahal, kalo tanpa teori, baca novel bahasa Inggris tuh enteng-enteng aja.)
Matematika? Jangan ditanya. Menurut gosip terlama, ini merupakan masalah besar dalam UAN, termasuk kelas kita (walopun ada makhluk bukan manusia di kelas kita enak aja gitu dapet nilai 10.0 buat siksaan yang satu ini)
Jadi, setelah hasil try out selama sekitar 3 minggu yang kurang memuaskan, kita, sekali lagi ditanya buat ikut UAN ato engga.
"Kalian bener-bener mau ikut UAN?" tanya seseorang di panggung ruangan audiovisual.
"IYA!!", anak-anak menjawab.
"Yakin??"
"YAKIN!!"
"Ya udah, karena nilai TO kalian kurang memuaskan (ekuivalen dengan buruk), kami, bersama Prof. Yohanes, memutuskan untuk mengkarantina kalian di Karawaci untuk fokus belajar, terutama matematik!"
Aw phooey. Di saat-saat terakhir, mereka memperlakukan kita seperti anak olimpiade sungguhan.
Target kelas ini jadi berubah, "Jadilah orang dengan NEM 30.0".
Jadi, dengan sisa waktu sekitar 17 hari, kami dikarantina untuk menjalani perawatan karena kami semua menderita flu burung garuda.
Bukan, maksudnya buat belajar matematik sampe jam 1 lebih (ini jujur dan benar-benar terjadi), dan diselingi dengan pelajaran seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahkan PPKn.
Oke, jadinya kita tinggal di Karawaci, tempatnya jenius OSN, IJSO, IChO, IMO, IPhO, dan IJO digembleng.
Saat penyambutan oleh tuan rumah no. 8, Yanuar, gw yakin kalo nih tempat bakal jadi gila banget dengan adanya dia.
"Saya ingin kalian semua mematuhi perintah saya. Karena itu, berilah orang tua kalian duduk. Kalian duduk di bawah saja."
Gue udah mencium bau-bau yang gak enak. Yanuar kemudian memanggil anak-anak karantina OSN satu per satu.
Saat dia memanggil salah satu anak OSN, namanya Bernard, anak itu ngga dateng.
"Bernard!!" dia memanggil nama anak itu dengan keras.
5 detik kemudian, dia dateng kucuk-kucuk gitu aja.
Lalu, telinga si Bernard dijewer dengan keras sama si Yanuar, sampe kepala dia teleng-teleng.
"NGAPAIN AJA KAMU? NGGA DISIPLIN AMAT SIH?"
Satu komplek hening. (karena udah malem)
Si Yanuar nyerocos lagi, "Saya sangat suka kedisiplinan. Ini semua saya lakukan karena saya sangat sayang dengan kalian semua," katanya sambil memutar kedua tangannya.
Dia ngatur tempat buat karantina anak kelas super. Cewe di rumah no. 8 (punya si Yanuar), cowo di rumah no. 18 dan 82. Sekali lagi gue mencium bau ngga enak, yang ternyata adalah kentutnya Dipta.
Bukan, firasat gw mengatakan kalo anak cewe bakal diapa-apain sama si maniak itu.
Setelah sekilas info, kami berpencar ke rumah masing-masing. Dan malam itu, kami mulai sedikit merasakan gimana jadi anak kos. Kalo yang udah terbiasa kos kaya Putri sama Mojol sih, ngga masalah. Yah, ngga terlalu berat sih. Makan disediain catering. Baju kotor dijemput sama ortu. Tinggal ngurusin kebersihan kamar, masak mi, nyuci perabotan, sama belajar. Bedanya ya itu, pisah sama keluarga.
Dan tiap malem ngerjain tugas matematik yang ngga ada abis-abisnya. Masih inget kita kenapa tinggal di sini?
Karena ini merupakan kegiatan yang rada mirip kegiatan karantina anak-anak olimpiade, kita minta salah satu staf pengajar BPK Penabur 1 buat ngajar kita.
"Panggil aja saya 'Awe'", setelah menuliskan nama lengkapnya, Anton Wardaya, di papan tulis.
"OK, Pak AW", sahut anak-anak.
"Ups, pake 'kak' aja, ngga usah pake 'pak'. Saya masih muda kok."
Kesan pertama gue, ni guru lumayan G4UL (baca: gempatul). Entah kenapa, tapi saat itu gue mikir kalo nickname yang dibuat dari inisial nama lengkap itu keren (contohnya, AW dari Anton Wardaya). Mungkin kalo gue kenalan sama temen baru di kampus, gue bisa bilang gini, "Oi! Gue IPB!"
Kalo temen baru gue itu anak mantan rektor IPB, bisa-bisa dia kaget kalo gue anak selingkuhan bapaknya.
Pas ngajar, nih guru makin keliatan g4ulnya. Keliatan dari gaya ngomongnya, walopun dia kebanyakan cuma pake kaos+jeans.
Pas jelasin 3gonome3 (baca: trigonometri) di depan, dia ngomong, "Jadi sin t + sin t bla bla bla gitu loh"
Waktu jelasin dimensi tiga, dia ngomong, "Kalo mau bikin garis khayal tarik garis bla bla bla... gitu loh."
Rupanya, akhiran ini lebih keren daripada pyoko, gozaru, meow, dan embel-embel lainnya yang biasa ditambahin di akhir kalimat pada karakter di anime dan manga yang dibikin orang Jepang.
Dan ngga lupa, kita dikasih PR bejibun, sampe-sampe ngerelain ngga tidur semalam buat ngerjain itu.
Setelah beberapa hari, ada guru-guru lain yang dateng, yaitu Pak Bambang, Bu Savitri, dan guru-guru lain dari SMA 3 yang mendukung kita buat belajar pelajaran non-matematik.
Orang tua juga rutin dateng buat ngasih kita snack, ngambilin baju kotor, dan ngeliat perkembagan kita.
Dan yang paling seru, ada sedikit bumbu cinta 'ehm' di antara pengajar kita. Sama-sama muda, sama-sama belom nikah. Sampai-sampai anak cowok di rumah no. 18 ngegosipin mereka. Tengah malem, gue bangun gara-gara Teddy cs ngomongin hubungan mereka berdua. Gue ikut aja acara gosip yang mereka lancarkan bak obrolan ibu-ibu arisan di siang bolong.
Waktu ngobrol, Kak AW sempat nyamperin kamar kita.
"Cepet tidur, besok kan ada test".
Abis dia nutup pintu, gosip berlanjut.
Besoknya, kita tes pemahaman. Sejauh mana apa yang diajarin AW cs masuk ke otak kita, diuji di sini. Tapi, gue sendiri baru bangun jam 9 pagi gara-gara ngegosipin kak awe. Hasil testnya? Nice (diucapkan dengan gayanya si Jack dalam film "Kangaroo Jack").
Yah, begitulah kehidupan kami di Karawaci sampai suatu saat di depan rumah no. 8, ada hal yang sangat menggemparkan lewat.
Kalau Anda bertanya, "Apa yang lebih menggemparkan dari 12 kapal selam Rusia yang jatuh dari langit?", maka saya akan jawab "13 kapal selam Rusia jatuh dari langit".
Kalau Anda nanya lagi, "Apa yang lebih menggemparkan dari 13 kapal selam Rusia jatuh dari langit?", maka akan saya jawab "Yanuar maniak joget ngalor ngidul di depan 75% anak super dengan make earphone sambil nyanyi 'I Have A Dream'".
Yah, sekelas juga kaget ngeliatnya. Temen-temen yang nongkrong di teras (yang sialnya ngeliat si yanuar dansa) pada nyuruh anak-anak laen keluar. Semua ngumpul di teras, hening. Melihat Yanuar menatap lurus ke depan, senyum yang membuat bibirnya melewati badan jalan, menggerakkan kedua tangannya membentuk angka 8 mendatar, tanpa memperdulikan anak-anak yang menonton dirinya.
Sangat naas, setelah melihat realita hidup, tali tambang yang dijual di toko terdekat habis terjual karena sekelas pada pengen mengakhiri hidupnya. Untungnya ngga jadi.
Setelah mendapat beberapa informasi dari jaringan kepolisian, si Yanuar berubah jadi gitu gara-gara stress. Walhasil, dia dipindahin dari Karawaci, ngga tau ke mana. Yang penting, dia udah lepas dari kita.
Eh, taunya, pas kita udah mau pulang dari Karawaci, tuh anak ikutan pamitan, minta maap, en ngasi alamat e-mail. Penting? Ngga juga. Walopun mungkin (sekali lagi gue bilang mungkin) ada beberapa orang di kelas kita yang kangen.
2 hari setelah kita cabut dari Karawaci, UAN digelar. (emangnya karpet?)
Bahasa Indonesia? Bahasa Inggris? Matematika? No problemo. Semua anak yakin lulus gara-gara aturan waktu itu (nilai minimal 4.26, jika ada yang bernilai 4.00 maka 2 pelajaran lainnya harus minimal 6.00). Prinsip waktu itu: yang penting lulus dulu. Pasalnya sih, kalo kita kerja nantin ngga bakal ditanyain nilai UAN SMA, kecuali kalo kita langsung kerja abis lulus SMA. Yang ditanyain, IP kita waktu kuliah.
Nah, masalah sekarang dialihkan ke SPMB. Biang masalah, di mana takdir ditentuin dalam 2 hari penuh tekanan. Kalo ngga lulus, pilihannya ada tiga: masuk universitas tanpa pake jalur SPMB (ujian mandiri, USM, atau apalah namanya), ngulang taon depan, dan mengakhiri hidup perlahan-lahan dengan kentut sendiri.
Biasanya, kalo mau SPMB kaya gini bisnis bimbel bakal laris banget. Biasanya anak-anak yang ngga percaya diri, walopun udah pinter, bakal masuk bimbel, entah itu BTA, Quantum, Nurul Fikri, Visi, de el el. Nah, 90% dari anak-anak kelas super masuk bimbel. Sisanya, Sangga sama Dipta, memilih buat belajar mandiri di rumah.
Jadinya, anak-anak kelas super terpecah jadi beberapa blok:
BTA 45, Tebet: Ado, Dimas, Friska, Ilham, Jaka, Kinara, Kirana, Mojol, Piko, Putri, Teddy, dan gue sendiri
Nurul Fikri: Dinna, Ghana, Saifan, Rendy, Restu
Quantum: Dhea
Belajar mandiri: Dipta, Sangga
Untungnya ikut bimbel, kita dikasi tau gimana caranya biar lulus SPMB, trik memilih pilihan universitas, penghitungan skor SPMB tingkat nasional, simulasi ujian, dapet temen baru, internet gratis, dan hal lainnya.
Ruginya? Mesti bayar. Itu pun ngga garansi lulus ato engga.
Tapi, ada hal yang gue dapet dari BTA 45:
Salah satu pilihan universitas sebaiknya ada di propinsi peserta SPMB.
Jarak nilai aman antara pilihan universitas harus jauh, biar kalo nilai kita jelek kita masih aman.
Kalo di peringkat nasional ada yang nilainya sama dengan pilihan yang sama, maka yang umurnya lebih tua didahulukan.
Lembar jawaban SPMB ngga boleh digosok pake lilin, kelipet, basah, robek, ilang, apalagi kebakar.
Lembar jawaban haris diitemin, bukan dicoblos.
Ngitemin lembar jawaban harus pake pensil 2B, ngga boleh pake 3B, 4B, H, 2H, 3H, 4H, apalagi BH.
Kalo ada yang salah, harus dihapus sampe bersih. Jangan di-tipex, dicoret, dan jangan sekali-kali pake penghapus papan tulis.
Tulis nama asli, alamat rumah, kode soal, dan nomor peserta dengan benar. Jangan nulis nomer telepon; ngga ada bakal yang mau repot-repot nelpon.
Jangan pernah belajar semalam suntuk saat malam sebelum ujian.
Sebelum ujian, berdoa dan buang semua air, baik air kecil maupun air besar. Pastinya orang ngga kepengen kebelet di tengah ujian.
Kalo mau nyontek, usahakan biar ngga ketahuan.
Sedangkan gue? Pilihan super nekat. Pertama STEI ITB, fusion Elektro ITB dan Informatika ITB yang melegenda, dengan batas aman 65. Kedua FK UI, pilihan hampir setiap orang di Jakarta, dengan batas aman 60. Belom lagi, umur gue ngga menguntungkan.
Dipta jauh lebih nekat. Pertama STEI ITB, sama kaya' gue. Kedua Teknik Kimia ITB, yang kabarnya tekkim tersulit di Indonesia, dengan batas aman 63.5. Dan dia ngga ikut bimbel. Dasar gila.
Di BTA 45, yang ngajar asik-asik. Rata-rata anak UI taon 2003. Pengalaman di SPMB (karena mereka pernah ngalamin paling engga sekali), en jago banget tentang soal-soal itu. Bahkan ada yang dimirip-miripin sama gue. Namanya Dora, ngajar bahasa Indonesia. Gurunya campuran antara gue, Deddy Corbuzier, sama Tukul. Rada jayus, suka sulap ngga jelas (tapi masih bisa bikin orang kagum), dan yang pasti susah dibedain sama gue. Pas gue ke ruang pengajar di sana, gue malah dipanggil Dora. Asem. Jangan-jangan kalo gue jalan ke Ciwalk, gue bisa disangka Baim Wong yang mukanya baru aja kena setrika.
Gue juga belajar banyak aturan dan penghitungan skor buat SPMB. Nah, biar ngga bingung, yang pasti ada 4 hal yang sangat penting untuk diperhatikan buat memaksimalkan skor SPMB:
1. Setiap jawaban benar akan diberikan poin +5. Karena itu, jawab soal dengan benar.
2. Setiap jawaban salah akan diberikan poin -1. Karena itu, kalo ngga yakin jawabannya bener ato salah, lihat bawah.
3. Untuk jawaban kosong, diberi poin 0. Kalo ngga yakin, sebaiknya kosongin aja.
4. Gabungkan cara 1, 2, dan 3.
Percaya deh, ngga ada trik lain yang lebih hebat.
BTA bikin try out tiap 2 minggu. Hasilnya bisa buat perkiraan kemampuan kita. Ada yang stress abis ngeliat nilainya, ada yang seneng. Ada yang mencoba turun lantai tanpa tangga. Ada juga yang menjemur diri pake tali jemuran.
_-o0O0o-_
Sore-sore setelah pelajaran, gue, Ute, Manda, sama Vie ngobrol bareng. Rata-rata, yang mereka tanyain gini: Kok nilai try-out loe bagus sih?
Gue jawab, "He-hehe. Yang penting konsep", meniru ucapan Sang Mahaguru Dipta.
Abis itu, mereka mulai nanyain hal yang rumit, misalnya, "Jadi Kelas Super itu apaan sih?" yang jelas-jelas butuh penjelasan panjang lebar.
Kesimpulan mereka abis dijelasin panjang x lebar = luas: "Kelas super itu aksel yah?"
Jadi, gue punya alasan buat bikin blog ini.
Selanjutnya, mereka terus meng-interogasi gue. Bak pedekate massal.
"Ih, gue kok susah banget sih fisikanya. Ajarin gue dong?"
Goddammit. Sekarang gue bener-bener dianggep pinter fisika. Padahal kata physics sama psychic terlihat sama di mata gue.
"Ehhm, minta sama kakaknya aja. Gue ngga jago ngajarin." Gue nolak. Ntar salah-salah malah gue ajarin psychic lagi.
"Bokis."
"Beneran deh. Tapi kalo ngerjain soal bareng, yuk aja. Oke deh, sekarang gue yang nanya. Gimana menurutlo kalo ada cowok yang nikah sama cewek yang lebih tua 3 taun?"
Sayangnya, gue lupa jawabannya.
_-o0O0o-_
Jadinya, ya tetep aja jalanin ujian dengan was-was.2 minggu sebelum SPMB, Dhea, yang tadiny di Quantum, pindah ke BTA45. Entah kesepian karena ngga ada gue, minta gue nemenin pulang, tapi katanya dia lebih percaya sama BTA45. Alhasil, keluarga kita nambah satu lagi. Tapi, di BTA, soal-soal try out paling susah ada di 2 minggu sebelum SPMB, jadi kemungkinan dia butuh sedikit adaptasi.
Beberapa hari sebelum SPMB, kepanikan semakin menjadi. Yang nilainya ada di bawah batas aman pilihan mereka, jadi panik. Yang nilainya masuk 200 besar seluruh BTA, juga ikut panik. Pasalnya, soal yang dijadiin try out terakhir katanya lebih mudah daripada soal SPMB. Mungkin maksudnya mau dongkrak mental anak-anak biar siap hadapin SPMB, tapi kalo informasinya bocor percuma dong?
Kalo ngga salah, 2 hari sebelum SPMB kita pamitan sama kakak-kakak di sana. Sekalian nonton film bikinan staf BTA 45 sendiri. Ceritanya, berbagai macam style anak-anak SMA dalam persiapan SPMB. Ada yang belajar rajin, ada yang dateng ke dukun minta petunjuk, ada juga yang kerjanya cuma ngelamunin cowo ganteng (dalam hal ini, gue). Film itu juga membahas sikap-sikap yang benar dalam menghadapi SPMB. Kaki dua-duanya di bawah, kepala diarahkan ke kertas soal. Jangan pernah naikin kaki ke bangku, kita bukan Ryuzaki.
Ending dari filmnya, si dukun diburu sama customernya gara-gara jampi-jampinya gagal ngelulusin dia. Yang belajar rajin, seperti diperkirakan, lulus. Yang kerjanya mikirin cowo melulu, malah suka sama pengawas ujiannya. Top bener. Mau liat commentnya?
"Two thumbs up!"
Roeper & Ebert - New York Times
"****"
Roeper & Ebert - New York Times
"Sangat menghibur. Pas buat relaksasi sebelum ujian."
I Putu Banitama Supartha - TEMPO
...dan berbagai comment yang menempel di sampul-sampul DVD bajakan.
Besoknya, karena masih ada waktu, gue pergi ke lokasi tempat ujian diselenggarakan. Lumayan jauh, tipe-tipe sekolah SMA standar, 2 lapangan basket dengan aula. Bangku dan meja kayu yang agak kasar, yang bikin gue musti bawa papan buat alas tulis besok. Setelah sedikit survei, gue balik ke rumah, nyiapin segala alat tulis. Yeah, gagal mempersiapkan berarti mempersiapkan gagal, begitu kata-kata bijak yang tertulis di karet kolor gue.
Hari ujian pertama, yang isinya indo-eng-math, hasilnya gue perkirakan buruk. Hari kedua (mat IPA-fisika-biologi-kimia-IPA terpadu), yang justru pengen gue pake buat nutupin kesalahan di hari kemaren, malah nggak bisa diharapkan. Suer, soal-soalnya lebih susah dari latihan-latihan soal yang ada di buku-buku. Pulang dari situ, hopeless banget rasanya. Nyesel udah milih STEI ITB sama FK UI. Libur setelah SPMB gue pake buat ikut pendaftaran tes beberapa universitas kaya Binus sama STAN. Cape banget nunggu hari pengumumannya.
Sekitar jam 3 sore pas hari pengumuman, Dimas nelpon gue. Ngobrolin hal-hal yang bakal dilakuin kalo kita nggak lulus. Entah masuk Maranatha, STAN, Binus, ato nganggur setaun lagi buat ngejar target.
Malem itu, jam 8 gue ditelpon Ilham. Dari sana, dia nelpon dengan nada seneng, lebih mirip om-om seneng daripada calon mahasiswa. Katanya, 15 anak lulus SPMB, selebihnya engga.
Azhar Fuadi (Mojol), Teknik Mesin UI
Dhea Mutiarafitri Muchtiarsyah (Dhea), DKV UMN
Dinna Afriana (Dinna), Bakrie School of Management
Diptarama (Dipta), STEI ITB
Febrigia Ghana (Ghana), Teknik Kimia ITB
Friska Amalia (Friska), Teknik Kimia UI
Herdimas Anggara (Dimas), Teknik Kimia ITB
Hisardo Dagmar (Addo), Hubungan Internasional UNPAD
I Putu Banitama Suparta (Bani), STEI ITB
Ilham Septiawan (Ilham), FMIPA ITB
Jaka Besar Bachtum (Jaka), Biologi UI
Kinara Paramitha (Kinara), Biologi UI
Kirana Listyandiani (Kirana), Biologi UI
Muhammad Taufik Aulia (Piko), Biologi UI
Putri Herliana (Putri), FKG UI
Putri Sanggabuana Setiawan (Sangga), UMN
Rendy Dwi Putra (Rendy), BSM
Restu Dwi Hartono (Restu), Geologi UI
Saifan Abdulloh Muqimuddin (Saifan), BSM (akhirnya pindah ke STAN)
Teddy Hendra Zulkarnaen (Teddy), Teknik Mesin UI
Terus, buat yang dapet di universitas negeri, kita dapet beasiswa buat kuliah kita. Uang semesteran+tunjangan hidup (600.000)+uang buku (200.000).
Terus, buat yang dapet di universitas negeri, kita dapet beasiswa buat kuliah kita. Uang semesteran+tunjangan hidup (600.000)+uang buku (200.000).
Yang penting, semuanya udah pada kuliah. Nggak jadi pengangguran (atau menurut gue, jadi pengangguran masih mending karena punya banyak waktu tapi ngga punya duit. Orang kuliahan, nggak ada waktu, nggak ada duit pula.). Dan sampai sekarang kita masih menjalin hubungan. Tanggal 31 Desember, ada acara malam tahun baru di rumah Ghana. Entah bakal gila-gilaan lagi, tapi yang pasti ngumpul-ngumpul lagi. Main kartu lagi. Kuda tomprok lagi. Seperti apa yang dilakukan di kelas kita dulu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar