Senin, 17 September 2007

What the sleeping police will do?

Dahulu, sebelom gw lulus SD, gw gak ngerti sama sekali tentang yang namanya "polisi tidur". Saat gw jalan ke rumah temen gw, Romi, di komplek Taman Asri, Jaksel, dia bilang, "Hati-hati, di sini banyak polisi tidur."

"Hah? Polisi tidur? Berarti musti pelan-pelan dong?"

Dengan intelegensi gw saat itu, gw bener-bener ngira kalo "polisi tidur" itu adalah polisi yang nongkrong di pos siskamling dan lagi tidur. maksudnya pelan-pelan ya supaya polisinya ngga bangun.

Romi menjawab, "Iya, emang kalo ngelindes polisi tidur itu musti pelan-pelan."
Gw mikir, kasian amet yah polisinya? dilindes mobil, apalagi truk, trus dilindes perlahan-lahan sampe menderita tiga perempat mati

Romi cerita lagi, "Banyak tuh, mobil-mobil ceper di komplek gw bawahnya lecet gara-gara ngelewatin polisi tidur."

At this point, pantat gw mikir, mungkin mobil-mobil itu sengaja dilecetin sama temennya si polisi yang pengen balas dendam gara-gara temennya gepeng.

Romi menarik kesimpulan, "Jadi, kalo ngelewatin polisi tidur, musti pelan-pelan. Apalagi kalo naik sepeda, kalo terlalu cepet ntar jatoh."

Tapi, bagi gw, kesimpulannya adalah: Polisi yang kita kenal, dengan seragam coklatnya itu, bener-bener kelindes kendaraan, apapun yang lewat, tapi ngga mati-mati (karena Romi ngga bilang ada polisi jatuh sebagai korban karena jadi kerupuk, kelindes gitu aja). Benar-benar penegak keadilan yang kuat.

Tapi, karena gw [dengan beruntung] udah kuliah, persepsi gw tentang polisi tidur udah berubah.

Ternyata yang namanya polisi tidur itu adalah gundukan aspal buat bikin pelan jalannya kendaraan yang lewat, bukan polisi yang tidur telentang (hah? sambil tidur nelen tang? mati dong?) di atas jalanan gitu.

OK, kembali ke PC. Dosen kontek gw ngasi contoh masalah, gimana kalo di deket mesjid dibikin polisi tidur?

Dari pihak pro, dinyatakan kalo itu bagus, untuk mengurangi jatuhnya korban gara-gara kebut-kebutan anak muda, sehingga jika ditambah polisi tidur korban akan berkurang karena kendaraan akan berjalan lebih pelan. Selain itu, ketenangan beribadah pasti terjaga.

Dari pihak kontra, dinyatakan kalo itu cuma memperlambat jalannya kendaraan, bikin rusak shockbreaker (bilang aja suspensi! sok bule!), merusak bagian bawah mobil, dan yang paling parah bikin kecelakaan baru lagi (pernah ada kasus teman ibu saya meninggal gara-gara naik motor lumayan kenceng dan ngga melihat polisi tidur).

Kalo menurut saya, sebagai seorang pengendara mobil dan motor, saya agak kurang setuju sama usul ini. Bagaimana kalo saya sedang terburu-buru dan harus menghadapi polisi tidur? Dan bagaimana tentang decitan rem mobil yang mungkin lebih mengganggu daripada suara mesin mobil?
(saya yakin kalo suara mesin mobil dan motor sekarang lebih tenang)
Bukannya mesin mobil menjadi ribut kalo berakselerasi (mengalami percepatan, pertambahan kecepatan, atau apalah) setelah melindas polisi tidur?
Kalau soal balapan liar, mungkin bisa ditertibkan dari pihak pembalapnya. Atau menyuruh mereka balapan di jalan yang lebih besar, misalnya.
Tapi, esensi polisi tidur itu adalah untuk menahan kendaraan agar memberi kesempatan orang untuk menyebrang.
Jadi, sebaiknya polisi tidur dibuat lebih jauh dari mesjid itu, untuk menjaga keamanan orang yang menyebrang jalan dan agar tidak mengganggu ketenangan beribadah.

Tidak ada komentar: